Kamis, September 29, 2022

Sesat Pikir “Orientalis” Indonesia

 

SEORANG sahabat penulis yang tengah menempuh pendidikan di sebuah universitas Islam pernah bercerita: “Kami ketika belajar filsafat Barat dosen pengampunya memberi pesan, agar sebelum memulai belajar, kita menyimpan keyakinan kita dulu, supaya bisa menilai filsafat Barat dengan objektif.”

Begitulah pandangan ilmuwan Barat, mereka mengajak kita menilai Islam, mengkaji Islam –bahkan mengkritik Islam menggunakan “kaca-mata” dan “pisau analisis” keyakinannya— padahal orang Barat (yang kafir) sendiri ketika mempelajari Islam tidak melepaskan keyakinannya. Maka, sangat keliru jika ada seorang Muslim, apalagi yang disebut sebagai intelektual, ketika mengkaji agama lain malah meninggalkan keyakinannya. Bahkan, lebih parah lagi, dia mengkaji agama lain dengan menggunakan kaca-mata agama yang dia kaji itu. Ini justru salah kaprah dan keblinger. Maka sangat wajar jika kemudian banyak “orientalis Indonesia” yang sesat pikir.

Bukti dari sesat pikir itu banyak contohnya. Misalnya, sudah ada yang berani mengatakan bahwa makna “kafir” bukan tidak beriman kepada Allah, tapi maknanya adalah: tidak beretika, tidak menghormati tamu, tidak baik kepada tetangganya. Ini jelas sesat sekaligus menyesatkan. Istilah “kafir” dalam Al-Qur’an maknanya adalah: tidak beriman kepada Allah dan menolak risalah Rasulullah. Sehingga kata Prof. Izutsu, “Kufr as oppossed to Īmān.”[1]

Artinya, tidak boleh memaknai kāfir sebatas makna etimologis (bahasa), karena kata kāfir memiliki makna terminilogis (istilah) dan ia termasuk “kata-kunci” (key-word) yang memiliki makna konseptual. Maka, ketika seorang “Prof. Dr.” di sebuah perguruan tinggi Islam menyatakan bahwa perkawinan sejenis sebagai hal yang alami karena tujuan pernikahan adalah “sakīnah-mawaddah-warahmah” berarti bangunan ilmu syariat dan fiqihnya sudah runtuh. Dan di saat sekelompok mahasiswa Muslim menegaskan bahwa perkawinan sejenis itu “indah” sehingga hak-hak kaum homoseksual dan lesbian harus diadvokasi dapat dipastikan mereka sedang hilang arah dan minus-adab dalam berilmu dan beragama.

Di sini doktrin orientalis-missionaris Barat tengah merayakan kemenangan karena berhasil “memurtadkan” pikiran sekaligus keyakinan. Akhirnya, yang terjadi, serangan kepada ajaran Islam tidak perlu orang kafir lagi. Cukup kaum terpelajar Islam yang sudah mengalami westernized minded (minda alias nalar yang di-Barat-kan). Akhirnya, Mereka menjadi para “orientalis Indonesia”; baik secara sadar maupun terpaksa.

Inferiority Complex

Penting dicatat bahwa para ulama dan pemikir Muslim sudah banyak yang mengingatkan tentang kondisi yang menimpa umat Islam hari ini. Khususnya, bencana yang menimpa worldview (pandangan alam/pandangan hidup”) mereka. Dalam bahasa Anwar al-Jundī, mereka telah banyak “minum racun” orientalisme dan orientalis (sumūm al-istisyrāq wa al-mustasyriqīn).[2] Karena terlalu banyak “minum racun orientalisme dan orientalis” akhirnya “orientalis Indonesia” banyak juga yang minder. Agar Islam maju dan terkesan moderat, maka liberalisme perlu “dihidupkan” kembali, kata salah seorang dari mereka. Berarti sebenarnya kaum liberal mengakui bahwa wacana mereka sudah lama pudar, bahkan mati.

Dan “orientalis Indonesia” yang lain menyatakan bahwa sebagian ayat mengenai agama lain (utamanya Yahudi dan Kristen) amat problematis. Maka, kata mereka, perlu menghadirkan pandangan Islam yang toleran dan humanis.[3] Lalu ada kaum liberal yang harus menyimpulkan bahwa Al-Qur’an adalah “kitab toleransi”. Untuk mendukung pandangannya dia menyatakan bahwa ayat-ayat tentang Taurāt dan Injīl dalam Sūrah al-Mā’idah menunjukkan bahwa Islām amat toleran terhadap kedua kitab itu.[4] Tapi, penulisnya melupakan sekian banyak ayat yang mengkritik Taurāt, Injīl dan dogma agama mereka (misal: tentang nabi Uzair/Ezra, penyembahan patung anak sapi, dogma Trinitas, dogma ketuhanan Yesus, tuduhan keji kaum Yahudi terhadap ibunda nabi Isa, sikap Yahudi yang mendustakan para nabi bahkan membunuhnya, rasisme Taurāt dan Talmūd, dan banyak lagi).[5] Dan, amat sulit untuk membuktikan otentisitas Taurāt dan Gospel. Apalagi karena adanya kebiasaan kaum Ahli Kitab merusak kitab suci.[6]

Butuh Belajar Worldview

Jika sudah banyak mengidap dan minum “racun orientalisme dan orientalis” maka harus segera diobati. Dan obat yang paling mujarab adalah kembali belajar worldview (pandangan hidup) Islām, sebagaimana yang diformulasikan oleh banyak para pemikiran Muslim.[7] Karena dengan mempelajari worldview dengan baik dan benar segala macam keraancuan berpikir akan terobati. Lebih dari itu, para ulama dan intelektual umat ini mampu mendiagnosa masalah umat dan penyakit yang tengah menjangkiti mereka.

Di fungsi pentingnya belajar worldview Islam adalah agar mampu memahami konsep-konsep penting dalam Islām, seperti: konsep Islām, konsep dunia-akhirat, konsep Tuhan, konsep wahyu, konsep ilmu, konsep pendidikan, konsep manusia, konsep alam, konsep dīn (agama), dan konsep-konsep seminal lainnya. Sehingga tidak ada lagi “orientalis Indonesia” yang mengklaim pakar Al-Qur’an dan Tafsir malah mengkritik Al-Qur’an para ulama. Karena ternyata banyakan diantara mereka menggunakan metode hermeneutika dalam menafsirkan Al-Qur’an, meskipun sampai sekarang belum ada hasilnya yang nyata. Padahal Josef van Ess, profesor emeritus dan pakar sejarah teologi Islām dari Universitas Tuebingen, Jerman menyatakan:

We should, however, be aware of the fact that German hermeneutica was not made for Islamic studies as such. It was originally a product of Protestant theology. Scheiermarcher applied it to the Bible. Later on, Heidegger and his pupil Gadamer were deeply imbued with German literature and antiquity. When such people say ‘text’ they mean a literary artifact, something aesthetically appealing, normally an ancient text wich exists only in one version, say a tragedy by Sophocles, Plato’s dialogues, a poem by Hölderlin. This is not necessarily so in Islamic studies.”

Maksudnya, perlu diketahui bahwa hermeneutika yang berasal dari Jerman itu sebenarnya memang bukan ditujukan untuk kajian keislaman. Pada asalnya ia merupakan produk teologi Protestan. Dipakai untuk mengkaji Bibel oleh Schleiermarcher, dan belakangan oleh Heidegger dan Gadamber dalam kajian kesusteraaan Jerman maupun klasik. Yang mereka maksud dengan ‘teks’ ialah karya tulis buatan manusia, sesutu yang indah lagi menarik, biasanya sebuah naskah kuno yang hanya terdapat dalam satu versi, seperti kisah tragedi karangan Sophocles, dialog-dialog karya Plato, atau pun puisi yang ditulis oleh Hölderlin. Ini jelas tidak sama dengan konsep teks dalam kajian Islām.[8]

Padahal konsep ilmu Tafsir dan Takwil dalam Islām sudah mapan (established). Tidak butuh kepada hermeneutika itu. Buku-buku studi Al-Qur’an (‘Uūm al-Qur’ān) yang ditulis dan diwariskan lebih patut dan lebih utama untuk dibaca, dipelajari dan diajarkan. Dan karya mereka sudah terbukti menghasilkan karya-karya tafsir yang hebat dan membangkitkan peradaban ilmu sampai saat ini. Sebut saja, misalnya, kitab ‘al-Burhān fī ‘Ulūm al-Qur’ān’ karya Imam az-Zarkasyī (745-794 H); kitab ‘al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān’ karya Imam as-Suyūthī (w. 911 H); kitab ‘Manāhil al-‘Irfān fī ‘Ulūm al-Qur’ān’ karya Syekh Muhammad ‘Abd al-‘Azhīm az-Zarqānī (w. 1367 H/1948 M); dan banyak lagi.

Sebagai penutup, mari renungkan nasihat penting dari Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, rektor Universitas Darussalam (Unida), Gontor sekaligus pakar kajian worldview Islām (karena salah seorang murid Prof. Dr. SMN al-Attas) berikut ini:

“Mendemo pembakar Al-Qur’an sangat perlu, supaya mereka toleran dan menghormati apa yang dianggap suci oleh orang Islām itu. Namun, yang lebih perlu adalah mendemo tulisan orientalis dan murid-muridnya yang merusak akidah, menafikan syariat, dan merendahkan status Al-Qur’an dari Wahyu menjadi sekadar “karangan” Nabi Muhammad Saw. Karena, menyerang ajaran Al-Qur’an itu lebih dahsyat dari sekadar membakar Mushaf Al-Qur’an.”[9]

Memang, ajaran Islām saat ini tengah diserang habis-habisan: dari Maroko hingga Merauke, dari Al-Qur’an hingga Tasawuf, dan pernikahan hingga moral. Semuanya memang sedang diuji dan dicoba.

Tapi, dengan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah serta dekat dengan para ulama yang istiqāmah, umat Islām akan bertahan dengan kebenaran Islām dan ketinggian nilai-nilainya yang memang sesuai dengan fitrah manusia. Semoga umat menyadarinya dan segera ambil langkah. Wallāhu a‘lam bis-shawāb. []



[1] Lebih luas, lihat Toshihiko Izutsu, Ethico-Religious Concepts in the Qur’ān (Montreal: McGill-Queen’s University Press, 2002), 119-127).

[2] Lihat Anwar al-Jundī, Sumūm al-Istisyrāq wa al-Mustasyriqīn fī al-‘Ulūm al-Islāmiyyah (Beirut: Dār al-Jayl/Kairo: Maktabah at-Turāts al-Islāmī, cet. II, 1405 H/1985 M).

[3] Lihat Mun’im A. Sirry, Polemik Kitab Suci: Tafsir Reformasi atas Kritik Al-Qur’an terhadap Agama Lain (Jakarta: Gramedia, 2013).

[4] Zuhairi Misrawi, Al-Qur’an Kitab Toleransi: Tafsir Tematik Islam Rahmatan Lil‘Alamin (Jakarta: Pustaka Oasis, 2017), 258-264).

[5] Tentang Judaisme, lihat ‘Abd al-Fattāh Husayn az-Zayyāt, Mādzā Ta‘rif ‘an al-Yahūdiyyah (Markaz ar-Rāyah li an-Nasyr wa al-I‘lām, 1998).

[6] Lihat Abu Ferik Ibn Muttalib, Sedjarah Singkat tentang Bijbel dan Al-Qur’an dan Hubungan Antaragama (Sebuaj Studi Perbandingan) (Djakarta: Jajasan Lembaga Penjelidikan Islam, 1962; lihat juga dua karya Dr. Munqidz as-Saqqār, Hal al-‘Ahd al-Qadīm Kalimat Allāh? (Kairo: Maktabah an-Nāfidzah, cet. I, 2006) dan Hal al-‘Ahd al-Jadīd Kalimat Allah? (Kairo: Maktabah an-Nāfidzah, cet. I, 2006).

[7] Lihat Sayyid Qutb, Khashā’ish al-Tashawwur al-Islāmī (Kairo: Dār al-Syurūq, . Lihat juga Syed Muhammad Naquib al-Attas,  Islām and Secularism (Kuala Lumpur: ISTAC, 1993).

[8] Lihat Dr. Syamsuddin Arif, “Hermeneutika dan Tafsir Al-Qur’an”, dalam Dr. Syamsuddin Arif, Orientalis & Diabolisme Pemikiran (Jakarta: GIP, 1429 H/2008 M), 183).

[9] Lihat Harda Armayanto (ed.), Hamid Fahmy Zarkasyi: Nasihat-Nasihat Peradaban (Ponorogo: Centre for Islamic and Occidental Studies (CIOS), cet. I, 2021), 16).

 

 

<<Kembali ke posting terbaru

"BERPIKIRLAH SEJAK ANDA BANGUN TIDUR" (Harun Yahya)